Hilir-Mudik-Maaf-maafan Yuk!

mudik lebaran animasi bergerakLebaran. Idul Fitri. Mudik. Hal semacam ini sudah terotomatisasikan. Mudik bukan hanya milik yang puasa saja. Mudik adalah hajat seluruh penghuni bangsa. Sebuah kebudayaan turun temurun. Penggerak sektor ekonomi yang luar biasa.

Mudik inipun bisa ditelusuri lebih jauh apa maknanya. Tapi memang secara universal mudik ini sangat indah. setiap manusia pasti akan kembali dari setiap perginya. Pulang paling dekat adalah ke leluhurnya di kampung halaman.

Budaya mudik setiap Lebaran bukan lagi hanya kepulangan seseorang dari keramaian ke kesenyapan. Karena apa yang ditemui di kota kini juga ada di kampung. Keramaian yang ada di kota, kini juga ada di kampung. Kedua wilayah ini akan menjadi seragam secara kebudayaan. Tontonan yang ditonton di kota juga telah ditonton di desa. Kota dan desa mulai memainkan jenis game yang sama, sama-sama boros pulsa ineternet dan bisa sama-sama “loe-gue-and” jika gak nyambung.

Bagi sebagian orang, Ibu Kota mungkin mirip sebuah kutukan: jauh dari kesejukan, dibayang-bayangi keinginan yang tak pernah padam, jalanan yang kian hari kian macet, berjarak dari sanak keluarga. Juga konflik laten (penggusuran, kemecatan, hedonisme dan individualisme) yang bisa meledak tak terduga.

Ibukota memang mudah membuat orang linglung. Kulihat wajah-wajah cemas, mata yang merindu sesuatu, langkah yang seperti mengeluh, percakapan yang sering tak bermakna. Di sini, psikologi yang tak mantap, gaya hidup yang terbiasa empuk, akan mudah goyah terprovokasi untuk mengucapkan kata bosan dan serapah, lambat laun membiak jadi jati diri lalu memutuskan mangkir dengan cara yang tidak bertanggungjawab atau membuat alasan dusta dengan sederet kalimat-kalimat tipu karena merasa yang ia jalani adalah beban. Semua itu jawaban terhadap keadaan yang tidak memenuhi kehendak diri.

Tapi itu tergantung persepsi masing-masing. Aku kira ini tentang bagaimana beradaptasi dan menerima lingkungan betapapun kita tidak nyaman dengannya. Ia lebih mirip sebuah sikap memaknai hidup. Menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagaimana mestinya. Mensyukuri tiap jengkal sudut bumi di mana kita berdiri dan bekerja. Suatu amorfati. Bukankah kata dan laku menunjukkan karakter? Keikhlasan menyembul dari sana. Dan hanya ada dua tipe yang akan terlihat: pesolek atau pekerja.

Jika ada yang membuatku merasa bosan, itu tidak datang dari kondisi fisik eksternal, melainkan realita keseharian. Aku bosan dengan orang-orang yang kepalanya hanya berisi topik tentang gaji, kenaikan tunjangan, obsesi pada pangkat dan jabatan. Aku benci kesepakatan-kesepakatan curang yang dibuat sebelah pihak. Aku muak dengan manipulasi data dan angka-angka.

Jika ada yang membuatku merasa kesepian, itu bukan karena tiada bar dan kekasih, tiada bioskop dan pestapora, melainkan tiadanya percakapan-percakapan bermutu yang menghidupkan visi dan akal sehat, kosongnya pergaulan gagasan yang memeriahkan jejak hidup, alpanya konsepsi dan tradisi telaah. Orang-orang lebih tertarik pada gosip dan kasak-kusuk.

Tapi di sini, di Kampung halaman, kutemukan sketsa damai yang sederhana: di depan jendela ilalang menari-nari lembut disapu angin, bunga-bunga alam merambat liar, kawanan burung berfestival di udara kala senja, hujan romantis di waktu pagi. Dan sepotong puisi di cangkir kopi buatan ibu.

Meski sekarang beda kota dan kampung pelan-pelan hanya soal jumlah rumah dan kepadatan ruang fisik. Tetapi ruang kejiwaan akan sama padatnya. Kini di desa dan di kota, seseorang bisa sama-sama duduk di pojok sendiri tetapi dengan otak penuh dan penat karena melihat bermacam-macam status di Face Book dan Twitter. Cukup di dua nama akun itu saja, seseorang yang sendiri, bisa mendengar aneka informasi, hiburan, fitnah dan caci maki, tergantung selera kejiwaaanya.

Selamat Mudik. Selamat pagi Kampung.
Ahirnya, “aku kadang-kadang memang berbuat baik. Tapi kadang juga tidak. Seperti lainnya juga. Jadi, inilah pagi ketika aku hendak membalas SMS Lebaran satu-persatu, sekuatku.” Halal Bi Halal. “Sama-sama ya”…

Iklan